HomeInternalPerkembangan Riset Litium di Indonesia

Perkembangan Riset Litium di Indonesia

Internal 1 likes 351 views share

Serpong – Pusat Riset Sains Material dan Metalurgi – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PR MM – BRIN) menyelenggarakan Sharing Knowledge dengan tema Lithium from Indonesian Natural Resources for The Future of Lithium Battery, pada Rabu (17/11). Acara ini merupakan webinar pertama yang diselenggarakan oleh Kelompok Penelitian ekstraksi metalurgi berbasis sumber daya primer dan sekunder.

Kepala PR MM – BRIN, Nurul Taufiqu Rochman mengatakan, Litium di Indonesia banyak bersumber di laut.   “Meskipun dalam kondisi ini kandungannya hanya BBM saja, tetapi dengan lautan yang begitu banyak, sekarang salah satu tantangan kita adalah bagaimana teknologi mengkonsentratkan sumber daya litium yang ada di perairan lautan,” dalam sambutannya.

“Semoga ini sebagai awalan untuk kita berbagi dan berinteraksi dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran dan bersama-sama membangun kekuatan sumberdaya alam yang kita miliki dengan teknologi. Tentunya kita bisa terlibat andil dalam pergerakan, peningkatan, kemaslahatan, kebaikan menuju ke negara maju  karena di indonesia banyak membutuhkan teknologi-teknologi khususnya material dan metalurgi,” harapnya.

Pembicara pertama, Eko Sulistiyono (PR MM – BRIN) menyampaikan bagaimana sumber daya alam litium yang ada di Indonesia. Melakukan investigasi dan proses tentang sumberdaya Litium dari sumberdaya Indonesia yang terdiri dari batuan dan brain water.

Indonesia belum diperhitungkan sebagai negara penghasil litium di dunia, produsen litium di dunia masih didominasi oleh Australia, Chile, Argentina, dan Cina. Namun Indonesia berada di Cicin api (Ring of Fire) seperti negara-negar penghasil litium di dunia.

Indonesia memungkinkan ada litumnya, namun bagaimana peluang berpotensi menghasilkan litium? “Kebutuhan litium sangat diperlukan dan belum tergantikan hingga sekarang. Kita bisa mendikte negara lain dengan nikel kita dan sebagainya, tetapi kita tidak mempunyai litium masalahnya, jelas Eko.

“Kalau baterai belum tergantikan litiumnya. Kalau kita mempunyai segala macam, tetapi litiumnya tidak ada, maungkin latar belakang kita termasuk litium. Jadi banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan walau pun baru riset, mungkin suatu saat ditemukan litium-litium yang baru harus kita mulai.

Seperti sebelumnya Pertamina Geotermal yang pernah memaparkan bahwa ada potensi-potensi sumber litium terutama dari buangan air, buangan steam dan itu sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, diekstrak litiumnya karena di beberapa negara sudah mempunyai sumber litium semacam tenaga panas bumi.

“Litium sangat diperlukan dan harus dimulai karena itu suatu kunci dalam suatu industri baterai,” pesannya.

Pembicara kedua, Latifa Hanum Lalasari (PR MM – BRIN) dalam penelitiannya melakukan ekstraksi Litium dengan menggunakan air bittern. Latifa dan tim mencoba membuat unit Percontohan Rumah Prisma  yang ada di Serang karena pada umumnya petani garam di Serang tidak menggunakan Rumah Prisma.

Llitium dari air bittern mempunyai potensi besar, tetapi masih banyak tantangan diantaranya masih memiliki kadar magnesium yang tinggi bagaimana cara menghilangkannya.

Menurutnya, kita bisa saling share dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini karena salah satu potensi yang sangat besar berasal dari air bittern. Kita sudah membuktikan itu, tetapi ada beberapa ion yang harus kita hilangkan terlebih dahulu, dan  itu masih sedang berjalan kita pecahkan.

Pembicara ketiga, Nadia Chrisayu Natasha (PR MM – BRIN) mempresentasikan mengenai teknologi ekstraksi litium dari batuan sikismika.

Peneliti dari Kelompok Penelitian ekstraksi metalurgi berbasis sumber daya primer dan sekunder  telah berhasil dengan batuan sekismika yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah mengandung mineral spodumen (AILiSi2O6) dengan kadar litum 3,14 ppm.

Nadia berpesan sebelum melakukan proses pemanggangna diperlukan perlakuan awal terhadap batuan sekismika untuk dapat meningkatkan konsentrasi awal litium pada batuan sekismika. Perlakuan awal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti  frothflotation, heavy media atau pun magnetic separator.

“Kemudian menggunakan pelarut asam namun dalam konsentrasi yang rendah untuk mengetahui jenis pelarut yang lebih efektif mengekstraksi litium batuan sekismika,” tambahnya.

Peneliti keempat, Ariyo Suharyanto (PR MM – BRIN) menyampaikan beberapa tentang litium beserta ekstraksinya pada batuan granit.

Ariyo mengatakan bahwa Indonesia memiliki berbagai macam sumberdaya Litium diataranya Brine, Geothermal, Air laut dan Batuan. Sehingga perlu adanya eksplorasi dan penelitian lebih lanjut terutama untuk mendapatkan cadangan bukan hanya sumberdaya saja yang hanya mengira-ngira.

“Dan tanpa ada campur tangan, kita tidak bisa membuat industri litium di negara kita,” tambah Ariyo.

Pembicara Kelima, Titik Lestariningsih (PR Fisika – BRIN) menyampaikan bagaimana hasil-hasil dari para peneliti PR MM – BRIN  diaplikasikan.

Jadi, litium karbonat yang dihasilkan dari PR Metalurgi dan Material atau dari brine water bisa diaplikasikan ke baterai secara langsung, sehinga kita lihat kapasitasnya tidak kalah karbonat yang ada di pasaran pada baterei.

“Pada saat ini, mungkin hasil dari sumber bahan untuk pembuatan baterai itu sudah banyak. tetapi yang sangat berat itu adalah memanfaatkan apakah sumber-sumber yang didapatkan itu sudah memenuhi produk pembuatan baterai. Karena kebanyakan menggunakan bahan yang bermerek untuk baterai,” kata Titik yang melakukan riset pada bagian elektrolit

Titik aplikasikan sebagai elektrolit untuk baterai litium.  Elektrolit berperan penting untuk mendapatkan baterai litium dengan kapasitas dan densitas energi tinggi.

Dengan Li2CO3 hasil pengembangan dan ekstraksi dari sumber bahan alam (brine water) bisa digunakan sebagai sumber Litium pada pembuatan garam elektrolit LiBOB. Untuk mendapatkan garam LiBOB dengan kemurnian yang lebih tinggi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terutama optimasi proses kondisi sintesa LiBOB.

Acara yang diikuti Kementerian ESDM, Kemenprin, LPNK, industri, hingga sekolah menengah atas ini, moderator Iwan Setiawan (PR MM – BRIN) menyimpulkan bahwa sumber daya nikel litium di Indonesia itu mempunyai potensi. Jadi perlu kolaborasi lebih lanjut untuk menemukan potensi dan cadangannya supaya bisa bermnafaat karena litium adalah suatu logam yang belum teridentifikasi.

Harapannya sumber yang bisa diharapkan di Indonesia untuk baterai. Karena sampai saat ini posisi litium itu belum tergantikan baik kalium, natrium dan sebagainya.  “Tanpa litium, baterai itu tidak bisa bekerja sampai saat ini. Negara yang mempunyai litum tidak banyak negaranya,” ujarnya.

“Kita cukup bergembira karena Indonesia mempunyai sumberdaya litium yang sangat berlimpah, walau pun dari peta dunia Indonesia tidak kelihatan, mungkin beberapa persen, tetapi semoga Indonesia benar-benar mempunyai sumber daya litium juga sumberdaya lain sebagai bahan baterai litium,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)