HomePublikasiMajalah MetalurgiMajalah Metalurgi Volume 23, No. 1, Juli 2008

Majalah Metalurgi Volume 23, No. 1, Juli 2008

Majalah Metalurgi 0 likes 943 views share

Unduh berkas pdf (berisi judul dan abstrak masing-masing makalah)

DAFTAR ISI

Kondisi Plane-Strain, Ketidakseragaman Filamen Dan Pembentukan Senyawa Nb3Sn Pada Kawat Superkonduktor Cu-Nb-Sn (Andika Widya Pramono)

Studi Pengaruh Tekanan Pada Pembuatan Magnesium Karbonat Dari Dolomit Tuban Selatan (Immanuel Ginting)

Perbandingan Efisiensi Pemotongan MWNTs: Metode High Energy Milling Dan Conventional Ball Milling (Nono Darsono)

Karakterisasi Batuan Pembawa Emas Batang Toru Tapanuli Selatan (Rustiadi Purawiardi dan Immanuel Ginting)

Analisa Kerusakan Dari Cincin Dudukan Katup Keluar Pada Generator Diesel (EVSRG) (Koos Sardjono KP.)

Pemanfaatan Potensi Bijih Nikel Indonesia Pada Saat Ini Dan Masa Mendatang (Puguh Prasetiyo)

Efek Perlakuan Thermomekanik Pada Sifat Kekerasan Dan Mikrografi Baja Assab Corrax (Parikin dan A.H. Ismoyo)

ISI

Kondisi Plane-Strain, Ketidakseragaman Filamen Dan Pembentukan Senyawa Nb3Sn Pada Kawat Superkonduktor Cu-Nb-Sn

Oleh:
Andika Widya Pramono

Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI,
Kawasan PUSPIPTEK , Cisauk Tangerang

INTI SARI
Penelitian ini terfokus pada ketidakhomogenan deformasi dan proses interdifusi pada kawat superkonduktor Cu-Nb-Sn. Observasi struktur mikro memperlihatkan penampang filamen yang tidak seragam akibat deformasi kawat dengan proses rol + tarik-kawat, selain keberadaan fenomena curling akibat kondisi plane-strain antara Cu dengan Nb yang berbeda struktur kristal. Ketidakseragaman filamen tersebut dikonfirmasi dengan pengamatan mikroskop dan pengukuran tegangan – arus listrik. Hasil EPMA menunjukkan daerah pembentukan senyawa intermetalik Nb3Sn yang bersifat superkonduktif pada kawat yang dipanaskan. Hasil EPMA tersebut juga mengimplikasikan bahwa Sn lebih mudah berdifusi ke Nb dan Cu dibandingkan sebaliknya, yaitu Nb dan Cu ke Sn. Hasil EPMA juga memperlihatkan penyebaran yang tidak diharapkan dari elemen Cu, Nb, Sn, dan Mg akibat abrasi mekanis selama preparasi metalografi (gerinda dan poles).

Kata Kunci: superkonduktor, pemetaan elemen, interdifusi, Nb3Sn, plane-strain, indeks transisi

ABSTRACT
This research focuses on inhomogeneity of deformation and inter-diffusion process within Cu-Nb-Sn superconducting wires. The microstructure observation shows the non uniform cross-sections of filaments within wire due to the utilization of rolling process followed by wire-drawing process, as well as the curling phenomenon due to the restricted plane-strain condition between crystal structures of copper and niobium. Such non-uniformity is affirmed through optical microscopy and voltage-current measurement. The results of elemental mapping by means EPMA indicate the formation of superconductive Nb3Sn compounds in heat treated wires. Such EPMA observation also implies that Sn diffuses to Nb or Cu much more easily than Nb or Cu diffuses onto Sn. In addition, EPMA observation shows the unexpected scatters of Cu, Nb, Sn, and Mg as a result of mechanical abrasion during metallographic preparation (i.e. grinding and polishing).

———————————————————————————————-

Studi Pengaruh Tekanan Pada Pembuatan Magnesium Karbonat Dari Dolomit Tuban Selatan

Oleh:
Immanuel Ginting

Pusat Penelitian Metalurgi LIPI
Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang

INTISARI
Pengaruh tekanan, laju pemasukan gas CO2 dan temperatur untuk proses karbonatasi telah dipelajari. Untuk meningkatkan kadar Magnesiun karbonat dilakukan percobaan didalam alat Autoclave, dengan tekanan diatur mulai 1 – 4,5 atm , laju pemasukan gas CO2 1 l/jam dan temperature <20 0C. Hasil percobaan menunjukkan perolehan MgCO3.2H2O dapat ditingkatkan dari 20 % menjadi 74.55 % pada kondisi tekanan 4.5 atm.

Kata kunci: Kalsinasi Dolomit, Pelarutan, Karbonatasi,Autoclave, Analisa

ABSTRACT
The effect of pressure, CO2 input flow rate and temperature on carbonatation process have been studied. To get the optimal recoveryof magnesium carbonate the tests were carried out in autoclave with the pressure was varied in the range of 1 – 4.5 atm, CO2 input flow rate 1 l / hr and the temperature <20 0C. The tests results showed that the recovery of MgCO3 2H2O could be increased from 20 % to 74.55 % at the pressure of 4.5 atm.

———————————————————————————————-

Perbandingan Efisiensi Pemotongan MWNTs: Metode High Energy Milling Dan Conventional Ball Milling

Oleh:
Nono Darsono

Pusat Penelitian Metalurgi LIPI
Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang

INTI SARI
Penelitian ini akan membandingkan efisiensi pemutusan MWNTs antara Conventional ball milling dengan high-energy milling. Hasil percobaan menunjukan bahwa 2 jam high- energy milling menghasilkan jumlah MWNTs dengan ukuran lebih kecil dari 150 nm dengan porsi yang besar, sedangkan 120 jam ball milling hanya menghasilkan MWNTs dengan ukuran lebih kecil dari 300 nm. Hal ini diperlihatkan oleh meningkat secara signifikan viskositas high energy milling sampel..

Kata kunci: high-energy milling, kristalinitas, MWNTs

ABSTRACT
The cutting efficiency of MWNTs was compared systematically between conventional ball milling and high-energy milling. Two-hour high-energy milling produced a large portion of MWNTs smaller than 150 nm, while even 120-hour ball milling struggled to achieve smaller than 300 nm. It was revealed by the significantly viscosity value. Since the high-energy milling viscosity was much higher than that of ball milling, we can conclude that high energy milling was more effective than ball milling.

———————————————————————————————-

Karakterisasi Batuan Pembawa Emas Batang Toru Tapanuli Selatan

Oleh:
Rustiadi Purawiardi dan Immanuel Ginting

Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI
Kawasan PUSPIPTEK Serpong

INTI SARI
Tujuan dari penelitian karakterisasi endapan emas dari Batang Toru adalah mengidentifikasi jenis-jenis mineral yang terkandung di dalam sampel batuan dari Batang Toru dan teksturnya. Pengenalan jenis mineral akan sangat membantu di dalam proses ekstraksi emas, karena mineral yang mengandung sulfida sangat mengganggu di dalam proses amalgamasi, sedangkan hubungan antara satu mineral dengan mineral-mineral lain, yang dikenal dengan tekstur akan memberikan informasi tentang jenis penguncian mineral. Dengan mengetahui jenis penguncian akan memberikan gambaran tentang ukuran butir yang diperlukan, untuk mempertinggi derajat liberasi mineral. Dengan menggunakan Difraktometer sinar X, hasil analisa sampel batuan dari Batang Toru terdiri dari Kwarsa, Goethite, Argentite, Galena, Pyrite, dan sejumlah kecil Electrum dan emas. Dengan analisa petrografi, Argentite intergrowth dengan Galena dan terbentuk sebagai cavity filling kedalam veinlets di dalam Goethite dan Kwarsa terbreksikan. Goethite terbentuk pada tahap magmatik awal di dalam Kwarsa terbreksikan, sedangkan emas dan Electrum terbentuk pada tahap magmatik paling akhir dalam bentuk urat-urat yang sangat halus.

Kata kunci: Karakterisasi, genesa, emas, Batang toru, Tapanuli selatan

ABSTRACT
The aims of investigation of gold deposits of Batang Toru are to identify the types of minerals and their textures contained in the rock samples from Batang Toru. The minerals identification will support in gold extraction, because the sulfide minerals make disturbance in amalgamation process, whereas the relation among minerals, known as texture will give information about locking type of mineral. By knowing this locking type will give information of grain size that is needed for rising degree of liberation of minerals. By using X ray Diffractometer, the result of the rock samples analyzes of Batang Toru consist of Quartz, 6, Argentite, Galena, Pyrite, and the small amount of Electrum and Gold. By Petrographyc analyzes the Argenthite dan Galena were intergrowth and formed as cavity filling into veinlets in Geothite and brecciated Quartz. The Geothite were formed at first magmatic stage in brecciated Quartz, while Gold and Electrum were formed at the latest magmatic stage in the form of veinlets.

———————————————————————————————-

Analisa Kerusakan Dari Cincin Dudukan Katup Keluar Pada Generator Diesel (EVSRG)

Oleh:
Koos Sardjono KP.

B2TKS (UPT – LUK) – BPP TEKNOLOGI
Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang

INTI SARI
Dudukan cincin katup keluar pada generator diesel ( Exhaust Valve Seat Ring of Genset – Diesel = EVRSG ) telah rusak, ini terjadi pada 3000 jam operasi kerja. Hal ini sangat menarik untuk diteliti karena biasanya umur pelayanannya mencapai empat kalinya yaitu 12000 jam. Dari ketiga percontoh ditemukan cacat disepanjang badan EVRSG, sehingga dilakukan pemeriksaan dan pengujian seperti: Analisa Komposisi Kimia, Uji Kekerasan, Pemeriksaan Metalografi dan Fraktografi serta Pemeriksaan Produk Korosi. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa EVRSG terkorosi lubang dari sisi luar ( seksi air pendingin ) di mana konsentrasi tegangan dan beban kompresi yang berulang serta serangan korosi menyebabkan retakan transgranular.

Kata Kunci: Analisa kerusakan, Cincin dudukan katup keluar, Generator diesel.

ABSTRACT
The exhaust Valve Seat Ring of Genset – Diesel was fail, that occur on 3000 working operational hour. That was interested for making investigation because actually the service life of EVSRG fourth or 12000 hour. From the sample – 3 of EVSRG that was fail along the body, we create some examination and test such as; Chemical Composition Analysis, Hardness test, Metallography and Fractography examination, and also examination of corrosion product. The investigation result reveal that EVSRG was pitting corroded from outer side (Water Cooling Section) whereas the stress concentration with some repeatedly compression load and corrosion attack cause transgranular cracking.

———————————————————————————————-

Pemanfaatan Potensi Bijih Nikel Indonesia Pada Saat Ini Dan Masa Mendatang

Oleh:
Puguh Prasetiyo

Pusat Penelitian Metalurgi LIPI
Komplek PUSPIPTEK, Cisauk, Tangerang

INTISARI
Bijih nikel dialam semesta digolongkan dalam dua jenis, yaitu: bijih nikel sulfida berada didaerah subtropis, dan bijih nikel oksida yang lazimnya disebut laterit berada didaerah khatulistiwa. Cadangan bijih nikel dunia sekitar 61 % berupa laterit sedangkan kebutuhan nikel dunia yang berasal dari laterit sekitar 40 %. Indonesia yang memiliki cadangan bijih nikel nomor dua (2) di dunia dan sampai tahun 1999 memasok kebutuhan nikel dunia sekitar 7 %, mempunyai peran strategis untuk pemanfaatan laterit untuk memasok kebutuhan nikel dunia. Karena sumber daya alam laterit yang berlimpah maka negara-negara besar terutama yang bergabung dalam G8 sangat berminat untuk mengeksploitasi laterit di Indonesia, diantaranya Amerika Serikat (USA) melalui PT Pasific Nickel pada tahun 1970-an, Canada melalui PT INCO pada tahun 1970-an, Jepang mengimpor saprolit untuk bahan baku ferro nikel (FeNi), dan Canada melalui PT Weda Bay Nickel (WBN) pada tahun 1998. Karenan PT Pasific Nickel sampai saat ini tidak merealisasi maka pemerintah RI mengalihkan kepada PT BHP Australia pada tahun 1990-an untuk mengeksploitasi laterit di pulau Gag-Papua. Demikian juga dengan WBN yang ditunda walaupun menurut rencana pada tahun 2003 mulai melakukan aktifitas penambangan, dan pada tahun 2004 mulai memproduksi NiS di Weda Halmahera untuk memasok 10 % kebutuhan nikel dunia. Sejak maret 2006, WBN telah berpindah kepemilikan ke ERAMET Perancis. Berdasarkan uraian singkat diatas, dalam tulisan ini akan dikaji sampai sejauh mana potensi laterit yang telah dimanfaatkan, dan bagaimana prospeknya kedepan untuk laterit yang belum dimanfaatkan.

Kata Kunci: laterit, eksploitasi, kebijakan

ABSTRACT
There are two varieties of nickel ore in the earth, nickel sulfide ore at the subtropical area and nickel oxide ore at the tropical area. The nickel oxide ore are mentioned laterite. The reserves of nickel in the earth are about 61 % in the form of laterite and only 40 % of word nickelsupply is form laterite. Indonesia has the abundant laterite in the world, the resource of nickel ore is the second in the world and only 7 % to supply nickel in the world until 1999. It is the fact that Indonesia has the strategic part to supply nickel in the world. So G8 countries want to exploit laterite,in examples: PT Pasific Nickel USA in 1970’s will exploit laterite in Gag island Papua, PT INCO Canada in 1970’s, Japan imported saprolit, PT Weda Bay Nickel (WBN) Canada in 1990’s. Because PT Pasific Nickel did not realiz, Indonesian Government moved the project to PT BHP Australia in 1990’s. WBN planed to build plant in 2004 to produce NiS to supply 10 % of nickel demand in the world from the exploitation of laterite at Weda Halmahera. WBN not yet realized the project and it was took over by ERAMET France since March 2006. From the illustration at the above, this paper will assigment the laterite have been exploited, and how the prospect of laterite not yet exploited in the future. Like or dislike, the fact is influenced by the Government’s policy.

———————————————————————————————-

Efek Perlakuan Thermomekanik Pada Sifat Kekerasan Dan Mikrografi Baja Assab Corrax

Oleh:
Parikin dan A.H. Ismoyo

Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-BATAN
Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang, BANTEN.

INTISARI
Pengamatan strukturmikro dan pengukuran kekerasan baja Assab Corrax di sekitar daerah heat affected zone akibat perlakuan mechano-thermo telah dilakukan. Studi ini dilaksanakan dalam rangka mencari bahan yang tahan pada operasi suhu tinggi. Sebelas (11) buah cuplikan digunakan dalam penelitian ini. Cuplikan asli digunakan sebagai acuan perbandingan cuplikan yang diberi perlakuan. Dua buah cuplikan lain hanya diberi perlakuan pengelasan. Sementara 8 cuplikan lainnya dirol dengan variasi temperatur; T= kamar (2 buah), T=300ºC (2 buah), T=600ºC (2 buah) dan T=900ºC (2 buah).dan disambungkan dengan las. Karakterisasi dilakukan dengan Mikroskop Optik dan Hard Vickers Tester. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada daerah HAZ kekerasan meningkat dibanding pada daerah las dan base metal. Kekerasan bahan di daerah HAZ meningkat tajam hingga 358 HV pada rol temperatur kamar dan melunak hingga 188 HV di bawah harga kekerasan bahan asli 229 HV. Kekerasan bahan di daerah base metal berfluktuasi disekitar 200 HV dan 300 HV Disimpulkan bahwa butiran baja Corrax berubah tergantung pada siklus termal yang terjadi saat pengelasan dan perubahan gradual terjadi dari base metal, heat affected zone hingga pusat las. Semakin banyak batas butir dalam bahan, pergerakan dislokasi semakin terhambat dan bahan semakin keras.

Kata Kunci: baja assab corrax, stuktur mikro, las, rol dan suhu

ABSTRACT
Microstructure observations and hardness measurements to investigate the thermomechanical effects in the region adjacent to the heat affected zone of Assab Corrax steel have been performed. The main objective of this study is to search for new high-temperature resistant operation materials. Eleven samples were prepared and the original one is used as a reference sample. Two of the samples were welded together. Four pairs were rolled at different rolling temperatures, i.e. room temperature, 300 ºC, 600 ºC and 900 ºC. Characterization was carried out by using Optical Microscope and Vickers Hardness Tester. The result shows that the hardness is sufficiently high in the heat affected zone region with a value of 358 HV, while in the base metal area the hardness values tend to fluctuate between 200 HV and 300 HV. In the conclusion, grain changes in Corrax steel samples are dependent upon thermal cycles when the samples were welded. The changes first appeared around the base-metal region and then slowly spread towards the heat affected zone in the welding core. The more abundant grain boundaries the harder the material and the more difficult the dislocations to move.

Pencarian terkait:

laterit 2017 pdf, stuktur kunci kontak generator
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this page