HomePublikasiMajalah KorosiMajalah KOROSI, Vol. 17, No. 1, April 2008

Majalah KOROSI, Vol. 17, No. 1, April 2008

Majalah Korosi 0 likes 2.4K views share

————————————————————————————————————————————-
Daftar Isi
————————————————————————————————————————————-
Korosi Pada Logam Baja Karbon Dan Baja Tahan Karat Dalam Lingkungan Air Laut Di Sistem Unit Desalinasi
Ronald Nasoetion, Sundjono

Analisa Perpindahan Panas Dan Perubahan Fasa Sebagai Studi Awal Penyebab Kegagalan Pipa Ketel Uap
Mawardi Silaban

Kegagalan Unjuk Kerja Pipa Tembaga Refrigerator Di Lingkungan Atmosfir Basement Supermaket
Sundjono

Hubungan Korosi Batas Butir Baja Tahan Karat Tipe 304 Metode ASTM A262 Dan Temperatur Sensitasi
Gadang Priyotomo

Identifikasi Awal Retakan Pada Kegagalan Korosi Retak Tegang Pipa AISI 316l Akibat Keberadaan Ion Klorida Dengan Menggunakan EPMA

Iwan Setiawan & Gadang Priyotomo

Material Berstruktur Nano Dan Elektrodeposisi

Harini

Karakterisasi Material “Boss” Dan ”Bracket” Mini Shovel Paska Tempa
Harsisto, Moch. Syaiful Anwar
————————————————————————————————————————————-
Lembar Abstrak
————————————————————————————————————————————-
KOROSI PADA LOGAM BAJA KARBON DAN BAJA TAHAN KARAT DALAM LINGKUNGAN AIR LAUT
DI SISTEM UNIT DESALINASI

Ronald Nasoetion, Sundjono

Intisari
Logam baja karbon, besi cor dan baja tahan karat banyak digunakan pada bagian dari unit desalinasi seperti pada pipa intake air laut, valve dan strainer. Logam baja karbon dan besi cor mudah terserang korosi dan korosi erosi dalam lingkungan air laut, sedangkan baja tahan karat cenderung mengalami korosi sumuran.Telah dilakukan penelitian laju korosi dan korosi erosi dengan metoda polarisasi. Logam uji adalah baja karbon, besi cor, baja tahan karat SS 304L, SS 316, SS 316L dan duplek SAF 2507. Media uji adalah air laut yang berasal dari Muarakarang Jakarta Utara dan Belawan Sumatera Utara. Parameter uji: variasi temperatur 30, 50, 70 dan 90 oC, laju alir 0, 500 dan 1000 meter per detik.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi dan korosi erosi logam besi cor relatif lebih besar dibandingkan logam baja karbon. Kenaikan temperatur dan laju alir, meningkatkan laju korosi secara signifikan. Baja tahan karat duplek SAF 2507 relatif lebih tahan terhadap korosi dan korosi erosi dibandingkan dengan SS 316L, SS 304L dan SS 316. Kenaikan temperatur dan laju alir, hanya sedikit meningkatkan laju korosi dan laju korosi erosi. Laju korosi dan korosi erosi logam baja dan baja tahan karat dipengaruhi oleh kualitas air laut.
Kata kunci : baja karbon, besi cor , baja tahan karat, air laut , klorida, temperatur, polarisasi, korosi, laju alir, korosi erosi

Abstract
Carbon steel, cast iron and stainless steel are most used at the part of desalination unit : sea
water intake pipe, valve and strainer. The carbon steel and the cast iron are less resistance to corrosion and erosion corrosion attack in seawater environment, while stainless steel is sensitive to pitting corrosion. The research of the corrosion and the erosion corrosion have been conducted by polarization method. The test materials are carbon steel, cast iron, stainless steel, SS 304L, SS 316, SS 316L and duplex SAF 2507. The fluid test is seawater, which sources from Muarakarang of north Jakarta and Belawan of north Sumatera. Test parameters: variable temperature 30, 50, 70 and 90 oC, flow rate of the fluid 0, 500 and 1000 m/s. From result of the research showed that corrosion and erosion corrosion rate of the cast iron is relative higher than carbon steel. Increasing of the temperature and velocity of the fluid, corrosion rate increase significantly. The stainless steel duplex SAF 2507 is relative more resistant to corrosion and erosion corrosion than SS 316L, SS 304L dan SS 316 . Increasing of the temperature and velocity of the fluid, corrosion and erosion corrosion rate are not increase significantly. Its corrosion rate is affected by the seawater quality.

Key words : carbon steel, cast iron, stainless steel, seawater, chloride, temperature, polariza-tion, corrosion, flow rate, erosion corrosion
————————————————————————————————————————————-
ANALISA PERPINDAHAN PANAS DAN PERUBAHAN FASA SEBAGAI STUDI AWAL PENYEBAB
KEGAGALAN PIPA KETEL UAP

Mawardi Silaban

Intisari
Kerusakan pada pipa ketel uap (boiler) yang mengakibatkan berhentinya operasi boiler biasanya terjadi karena: korosi pada sisi dalam atau luar pipa (tube), oksidasi pada sisi luar pipa, pecah akibat short-term dan long-term over heating yang dapat berlangsung secara individu ataupun kombinasi dari hal-hal tersebut.
Penelitian terhadap sifat mekanis material dan uji metalografi dapat memberikan informasi terhadap penyebab terjadinya kerusakan pada material pipa. Kerusakan yang dialami pipa boiler dalam hal ini adalah terjadinya penggelembungan sebesar 0,90 mm dan penipisan pipa 0,01 mm serta adanya endapan yang menempel pada sisi diameter dalam pipa setebal 5,54 mm. Tulisan ini menjelaskan tentang analisa perpindahan panas dan perubahan fasa sebagai studi awal terhadap penyebab kerusakan pada pipa ketel uap.
Kata kunci : endapan, panas berlebih, struktur mikro, pipa ketel uap, menggelembung

Abstract
Boiler tube damages which cause stopping the boiler operation usually occurs due to corrosion at in side or fire side of the tube, oxidation at tube fire side, crack due to short-term overheating as well as long-term over heating which are that happened individually or combination of them.
Research on material mechanics characteristics and metallographic test could be expected to give information on the main cause of the damage boiler tube. The boiler tube of damages in this case is happening bulging 0,90 mm and distension 0,01mm and also the existence of sediment which patch in side diameter of tube 5,54 mm thickness. This paper explain about heat transfer analysis and change of phase as early study to cause of damages tube boiler.
Key words: scale, over heating, micro structure, boiler pipe, bulging.
————————————————————————————————————————————-
KEGAGALAN UNJUK KERJA PIPA REFRIGERATOR DI LINGKUNGAN BASEMENT SUPERMARKET
Sundjono
Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI Kawasan Puspiptek Serpong – Tangerang 15314

Intisari
Telah dilakukan analisa kegagalan terhadap pipa pendingin. Pipa tersebut telah dipasang selama kurang lebih lima tahun di lingkungan basement Supermaket. Pipa pendingin terbuat dari logam paduan tembaga yang dispesifikasikan kedalam Unified Numbering System UNS C12200 (phosphorous – deoxidized copper, high residual phosphorous), diameter luar ± 44,50 dan tebal ± 4,51 mm. Penyelidikan penyebab kerusakan pipa pendingin dilakukan melalui : pemeriksaan secara visual kondisi pada bagian luar dan dalam pipa pendingin dan produk korosi. Analisa produk korosi dilakukan dengan Scanning Electron Microscope Spectrocopy, Energy Diffraction Spectrocopy, X-Ray Fluorescence Spectrocopy, C–H combustion, analisa gravimetri dan titrimetri. Hasil pengamatan secara visual pada kedua sisi bagian luar dan dalam pipa pendingin menunjukkan bahwa pada sisi dalam tidak terindikasi adanya korosi, sedangkan pada sisi luar ada lapisan produk korosi berwarna hitam dan green patina. Produk korosi pada permukaan luar pipa diakibatkan oleh pengaruh atmosfir disekitarnya. Hasil analisa komposisi kimia produk korosi menunjukkan bahwa produk korosi didominan oleh unsur sulfida (S) dan karbon (C).Korosi sumuran pada pipa pendingin berasal dari bagian luar, yang diakibatkan oleh sulfur dioksida (SO2) dan carbon diksida (CO2) dari sisa hasil pembakaran bahan bakar otomotif.
Kata kunci: pipa pendingin, paduan tembaga, atmosfir, basement supermarket, produk korosi, green patina, sumuran, sulfida (S), karbon (C), sulfur dioksida (SO2), carbon diksida (CO2), bahan bakar, otomotif

Abstract
Failure analysis of the refrigerator tube has been investigated. This tube has been installed for about five years at atmosphere of the basement Supermarket The refrigerator tube is made copper alloy, which specified in Unified Numbering System UNS C12200 (phosphorous -deoxidized copper, high residual phosphorous), outside diameter ± 44.50 and thickness ± 4.51 mm. The investigation cause of failure from the refrigerator tube included: visually examination of conditions at the outer and inner tube and the corrosion product. The analysis of the corrosion product was conducted with Scanning Electron Microscope Spectrocopy, Energy Diffraction Spectrocopy, X Ray Fluorescence Spectrocopy, C–H Combustion, gravimetric and titrimetric analysis. The results of visually examination at the outer and inner tube shows there is no indication corrosion at the inner tube, while at the outer tube is found black film and green patina of the corrosion products. These are caused by the atmosphere environment. The chemical analysis showed that the corrosion product was dominated by sulphide (S) and carbon (C). Pitting corrosion of the refrigerator tube come from the outer tube caused by sulphur dioxide (SO2) and carbon dioxide (CO2) of the residue of fuel oil combustion from the automotive.
Key word: refrigerator, copper alloy, atmosphere, basement supermarket, corrosion product, pitting, green patina, sulphide (S), carbon(C), sulphur dioxide (SO2), carbon dioxide (CO2), fuel oil, automotive
————————————————————————————————————————————-
HUBUNGAN KOROSI BATAS BUTIR BAJA TAHAN KARAT PADA TIPE 304 DAN TEMPERATUR SENSITASI
Gadang Priyotomo
Pusat Penelitian Metalurgi, Kawasan PUSPIPTEK Serpong -15314

Intisari
Korosi batas butir terjadi pada material AISI 304 tersensitasi. Proses sensitasi terjadi akibat pembentukan kromium karbida (Cr23C6). Dampak sensitasi pada AISI 304 dengan dan tanpa proses solution treatment (ST) berbeda. Pengujian kualitatif ASTM A 262 telah dilakukan untuk melihat keberadaan dan jejak senyawa karbida dengan variasi temperatur 600, 700, dan 8000C. Pengujian kekerasan Vickers dilakukan untuk melihat perubahan sifat mekanik setelah perlakuan panas. Bentuk karbida di temperatur sensitasi 6000C berbentuk ”dual” (non ST) dan ”step” (ST). Suhu sensitasi 700 dan 8000C dengan kondisi ST dan non ST telah membentuk ”ditch” penuh. Nilai kekerasan terendah ada di kedua kondisi (ST dan non ST) pada suhu sensitasi 7000C. Keberadaan ? ‘martensit memberikan kerentanan terbentuk sensitasi pada material 304 tanpa kondisi ST pada suhu sensitasi 6000C.
Kata Kunci : Korosi batas butir, Baja Tahan Karat 304, Sensitasi, Karbida, perlakuan panas

Abstract
Grain boundary corrosion is undergone at sensitized AISI 304. Sensitizing process is undergone that caused the formation of second coumpound (Cr23C6). The effect of sensitization at AISI 304 with and without solution treatment (ST) is quite different. The qualitative test of ASTM A-262 was conducted to observe chrom carbide and its path on grain boundary with the variation of sensitizing temperature for 600,700, and 8000C. The Vickers hardness test was done to observe the change of mechanical properties after heat treatment. The shapes of carbide at sensitizing temperature of 6000C are classified as “dual” (non ST) and “step”. The temperature of 700 and 8000C with the various conditions of ST and non ST formed full “ditch” structure. The lowest value of hardness on both conditions is at sensitizing temperature of 7000C. The existence of ? ‘martensite structure quite contributes the susceptibility of forming sensitizing condition at 304 materials without ST process at sensitrizing temperature of 6000C.
Keyword : Grain boundary Corrosion, Stainless Steel 304, Sensitization, Carbide, Heat Treatment
————————————————————————————————————————————-
IDENTIFIKASI AWAL RETAKAN PADA KEGAGALAN KOROSI RETAK TEGANG PIPA AISI 316L AKIBAT KEBERADAAN ION KLORIDA DENGAN MENGGUNAKAN EPMA
Iwan Setiawan, Gadang Priyotomo
Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI Kawasan Puspiptek Serpong – Tangerang 15314

Intisari
Pipa penyalur gas CO2 untuk bahan pembuatan pupuk urea mengalami kebocoran dan pecah. Indikasi awal merupakan kegagalan akibat korosi retak tegang. Di luar pipa diberikan selimut air yang beroperasi pada suhu 900C untuk menjaga temperatur pipa. Indentifikasi awal melalui analisa visual pada bukti material dilakukan. Identifikasi melalui makrostruktur dan mikrostruktur dengan menggunakan Electron Probe Micro Analyzer (EPMA). Analisa kualitatif menghasilkan keberadaan ion klorida (Cl), kalsium (Ca) dan sulfur(S). Lubang-lubang di permukaan pipa berukuran 5-20 mikron mengindikasikan peran ion klorida dapat menurunkan tegangan luluh dan menaikan tingkat konsentrasi tegangan lokal pipa.
Kata kunci : korosi, electron Probe Micro Analyzer, korosi retak tegang, Klorida, baja tahan karat

Abstract
Pipeline of CO2 gas distribution for the making process of UREA fertilizer occurred suddenly leakage and fracture while operation process still ran at Industry. The preliminary indication for this phenomena is the kind of failure that caused by Stress corrosion cracking. Outside the pipe is given by water jacket that run at temperature of 900C to maintain the temperature condition of pipe.Preliminary identification by visual analyzing on material evidence was conducted. The identification through macrostructure and microstructure by utilizing Electron Probe Microanalyzer (EPMA). Qualitative analysis results the existence of Chloride ion (Cl), Calcium (Ca) and sulphur (S). The size number of holes that are 5-20 micron indicate the major role of chloride ion that reduce yield strength of pipe and increase the level of local stress concentration for pipe.
Keyword : corrosion, electron probe micro analyzer, stress corrosion cracking, chloride, stainless steel
————————————————————————————————————————————-
MATERIAL BERSTRUKTUR NANO DAN ELEKTRODEPOSISI
Harini
Pusat Penelitian Metalurgi – LIPI Kawasan Puspiptek Serpong – Tangerang 15314

Intisari
Dalam tulisan ini dirangkum betapa penting dan banyaknya pemanfaatan material berstruktur nano diberbagai bidang dan disatu sisi ada metode proses yang sudah dianggap mapan yaitu proses elektrodeposisi dan ternyata masih bisa dikembangkan untuk menghasilkan lapisan maupun material berstruktur nano untuk dapat memenuhi perkembangan dan kemajuan teknologi.
Kata kunci: Struktur Nano, nanokristalin, elektrodeposisi,elektroplating, paduan Ni-Fe, pola, grafit, HPOG, kawat nano.

Abstract
In this review are summarized the important and usefull of nano structure material and on the other hand there is a technology which is already established but nevertheless it still can be developed for making a deposit or materials nano structured to fulfill the improvement and development of technology.
Keyword:Nanostructured,nanocrystalline,electrodeposition,electroplating,Ni-Fe alloys, template, graphite, HPOG, nanowire
————————————————————————————————————————————-
KARAKTERISASI MATERIAL “BOSS” DAN ”BRACKET” MINI SHOVEL PASKA TEMPA
Harsisto, Moch. Syaiful Anwar
Pusat Penelitian Metalurgi Kawasan PUSPIPTEK Serpong

Intisari
Berdasarkan hasil uji sifat mekanik dan sifat kimia di laboratorium pada komponen tipe A dan komponen tipe B, menunjukkan bahwa kadar kandungan unsur utama komponen tipe B lebih tinggi daripada komponen tipe A, masing-masing mempunyai kelebihan 0,00439% berat karbon, 0,00168% berat silikon, 0,00426% berat mangan, 0,0005% berat fosfor dan 0,0005% berat sulfur. Besar butir komponen tipe B berkisar antara 23,30 ? 36,30 ?m dengan angka rata-rata 31,52 ?m yang relatif lebih besar 3,37 ?m daripada komponen tipe A (besar butir berkisar antara 24,00 ? 30,10 ?m dengan angka rata-rata 27,95 ?m). Berdasarkan sifat mekanik, angka kekerasan rata-rata komponen tipe B (157,283 HB) relatif lebih tinggi 20,73 HB daripada komponen tipe A (136,55 HB). Komponen tipe A mempunyai harga rata-rata tensile strength (477 N/mm2) dan yield strength (279 N/mm2) yang relatif lebih tinggi daripada komponen tipe B (472,93 N/mm2 dan 256,07 N/mm2), masing-masing 4,07 N/mm2 untuk tensile strength dan 22,93 N/mm2 untuk yield strength. Demikian harga elongasi komponen tipe A (32%) relative besar 4,67% daripada komponen tipe B (27,33%). Kekuatan tekuk komponen tipe B (4,07 kN) lebih tinggi 1,097 kN daripada komponen tipe A ( 2,97 kN). Angka ketangguhan komponen tipe B (55,0 joule) lebih rendah 15,83 joule daripada komponen tipe A (70,83 joule).
Kata kunci: mini shovel, boss, bracket, uji mekanik, uji kimia.

Abstract
Based on test results of mechanical and chemical properties in the laboratory on the component type A and the component type B, showed that the rate of the content of the main elements of component type B is higher than component type A, each has advantages 0.00439% weight carbon, 0.00168% weight Silicon, Manganese 0.00426% weight, weight 0.0005% phosphorus and 0.0005% sulfur weight. Grain size component l type B is ranged 23,30 ? 36,30 with average 31.52 ?m relatively higher 3.37 ?m than component type A (grain size is ranged 24.00 ? 30.10 ?m with average 27.95 ?m). Based on the mechanical properties, the number of hardness average component type B (157.283 HB) is relatively higher 20.73 HB than component type A (136.55 HB). Component type A has average tensile strength (477 N/mm2) and the yield strength (279 N/mm2), which is relatively higher than the component type B (472.93 N/mm2 and 256.07 N/mm2) , Each 4.07 N/mm2 for tensile strength and 22.93 N/mm2 for yield strength. Therefore, the number of component elongation type A (32%) relative higher 4.67% than component type B (27.33%). Bending strength of component type B (4.07 kN) higher 1.097 kN than component type A (2.97 kN). The number of toughness component type B (55.0 Joule) lower 15.83 Joule than component type A (70.83 Joule).
Keywords: mini shovel, boss, bracket, mechanical test, chemical test.
————————————————————————————————————————————-