HomePublikasiMajalah KorosiMajalah KOROSI, Vol. 15, No. 2, 2006

Majalah KOROSI, Vol. 15, No. 2, 2006

Majalah Korosi 0 likes 1.3K views share

link
————————————————————————————————-
Daftar Isi
————————————————————————————————-
STRESS-CORROSION CRACKING OF STAINLESS STEEL HOSE BELLOWS
– D.N. Adnyana

FENOMENA KEGAGALAN AKIBAT KOROSI PADA PIPA ECONOMIZER DARI BAJA KARBON
– Sundjono

STUDI PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR CORTRON INR 787 TERHADAP KETAHANAN KOROSI BAJA KARBON SAE-AISI 4140 DI DALAM AIR YANG BERGERAK
– Kotia Sandila dan Rini Riastuti

KEGAGALAN MATERIAL BERBASIS FERROUS AKIBAT PROSES METAL DUSTING
– Gadang Priyotomo

KERUSAKAN PADA KOMPONEN PISTON KENDARAAN BERMOTOR
– Ika Kartika, Cahya Sutowo, Daniel P. Malau, Budi Priyono

PENGARUH SENSITISASI DAN KONSENTRASI C1- PADA KETAHANAN BAJA TAHAN KARAT AISI 304 YANG MENDAPAT BEBAN STATIK DI DALAM LARUTAN 0.82 m H2SO4
– Ronald Nasoetion
————————————————————————————————-
Lembar Abstrak
————————————————————————————————-
STRESS-CORROSION CRACKING OF STAINLESS STEEL HOSE BELLOWS
D.N. Adnyana

Abstract This paper present a failure analysis on stainless steel hose bellows that experienced several cracks along the external bends of the bellows convolutions. These hose bellows were used to transport and transfer the carbon black feed stock at temperature and pressure about 200 C anda 22 bar, respectively. The failure analysis was carried out by performing a number of examinitaions including macroscopy, metallorgraphy, chemical analysis, hardness test and scanning electron microscopy (SEM) equipped with EDS (energy dispersive spectroscopy). Results of the failure analysis showed that the failure experienced by the hose bellows was most likely caused by transgranular stress-corrosion cracking. This stress-corrosion cracking was likely occurred because of the simultaneous presence of tensile stress, a corrosive environment and a susceptible material. The presence of tensile stress on the bellows convolution was very much affecred by the bellows design configuration. While the presence of corrosive environment, sulfur in the feed stock was suspected being the corroding agent.

Keywords: Stress-corrosion cracking (SCC), hose bellows, external bends, bellows convolutions, feed stock, tensile stress, bellows design configuration, corrosive environment, sulfur

Abstrak Tulisan ini menyajikan analisis kerusakan stainless steel hose bellows yang mengalami sejumlah retakan di bagian lekukan luar pada gulungan/belokan bellows. Hose bellows tersebut digunakan untuk mengalirkan/memindahkan bahan baku carbon black pada suhu sekitar 200°C dan tekanan 22 bar. Analisis kerusakan telah dilakukan dengan melakukan sejumlah pengujian meliputi: uji makroskopi, metalografi, analisis kimia, uji kekerasan dan uji scanning electron microscopy (SEM) yang dilengkapi dengan energy dispersive spectroscopy (EDS). Hasil analisa kerusakan menunjukkan bahwa kerusakan yang dialami oleh hose bellows tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh retak korosi tegangan yang bersifat transgranular. Retak korosi tegangan tersebut tampaknya terjadi akibat pengaruh yang simultan dari tegangan tarik, lingkungan korosif, dan kondisi material yang rentan terserang korosi tersebut. Pembentukan tegangan tarik pada bagian gulungan/belokan bellows kemungkinan sangat dipengaruhi oleh konfigurasi rancangan bellows. Adapun pembentukan lingkungan yang korosif diduga berasal dari pengaruh sulfur yang terkandung di dalam bahan baku carbon black.

Kata Kunci: Retak korosi tegangan, hose bellows, lekukan luar, gulungan/belokan bellows, bahan baku, tegangan tarik, konfigurasi rancangan bellows, lingkungan korosif, sulfur.
————————————————————————————————-
FENOMENA KEGAGALAN AKIBAT KOROSI PADA PIPA ECONOMIZER DARI BAJA KARBON
Sundjono

Abstrak
Telah dilakukan analisis kegagalan terhadap pipa economizer dari unit boiler dengan tekanan operasi ±87 kgf/cm2. Pipa economizer terbuat dari baja karbon rendah JIS STB 42, diameter luar ±44,50 mm dan tebal ±4,51 mm. Penyelidikan penyebab kerusakan pipa economizer dilakukan melalui pemeriksaan sebagai berikut: analisa komposisi kimia dan metalografi, pemeriksaan visual pada bagian luar dan dalam sisi api, pengukuran ketebalan dan kerapatan deposit pada sisi api dan dinding bagian dalam, dan analisa komposisi kimia deposit bagian dalam pipa economizer. Dari hasil pengamatan visual pada kedua sisi api bagian luar dan dalam pipa economizer menunjukkan bahwa pada sisi luar terjadi penipisan dinding pipa pada posisi antara jam 9.°° – 12.°° dan diantara jam 12.°° – 15.°° masing-masing dengan ketebalan minimum: 1,37 dan 2,51 mm. Ini disebabkan oleh korosi erosi akibat efek fly ash. Sedangkan pada bagian dalam sisi api pipa economizer terjadi korosi sumuran ringan akibat oxygen corrosion.

Kata Kunci: Pipa economizer, boiler, sisi api, fly ash, korosi erosi, korosi sumuran, deposit, oksigen.
————————————————————————————————-
STUDI PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR CORTRON INR 787 TERHADAP KETAHANAN KOROSI BAJA KARBON SAE-AISI 4140 DI DALAM AIR YANG BERGERAK
Kotia Sandila dan Rini Riastuti

Abstrak
CORTRON INR 787 adalah inhibitor organik yang termasuk inihibitor basis amina. Pada penggunaannya, CORTRON INR 787 dimasukkan ke dalam air formasi yang bergerak. Kemudian, molekul amina dari inhibitor akan melekat ke permukaan pipa, dan membentuk lapisan film yang dapat menghambat terjadinya korosi. Untuk pengujian skala laboratorium, dibuat alat pengujian yang mengacu pada NACE STANDARD TM072-70, dengan jenis inhibitor, material uji dan kondisi fluida (jenis dan keadaan fluida mengalir), disesuaikan dengan kondisi pada flatform di industri minyak. Pengukuran laju korosi dengan menggunakan metode kehilangan berat, dilakukan dengan penambahan inhibitor sebesar 0 ; 0,01 ; dan 1% volume. Untuk tiap pengujian pada tiap penambahan konsentrasi inhibitor, pengukuran dilakukan setelah sampel direndam di dalam air formasi bergerak selama 3, 4, 5 hari. Selama rentang waktu tersebut, penambahan inhibitor CORTRON INR 787 dapat secara signifikan menurunkan laju korosi baja karbon AISI 4140 yang direndam dalam air formasi yang bergerak. Penambahan inhibitor yang optimal, sebesar 1%, mampu menurunkan laju kororsi hingga 1,54 mpy. Adanya kesamaan kecenderungan kurva pengaruh penambahan konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi material pada pengujian skala laboratorium dengan kurva hasil pengolahan data lapangan, menunjukkan bahwa alat pengujian skala laboratorium dapat mensimulasikan keadaaan pada platform tesebut.

Kata Kunci: Inhibitor, Air formasi, Korosi internal, SAE-AISI 4140
————————————————————————————————-
KEGAGALAN MATERIAL BERBASIS FERROUS AKIBAT PROSES METAL DUSTING
Gadang Priyotomo

Abstrak
Kegagalan material logam di lingkungan karburisasi sangat merugikan industri petrokimia, refining dan pembuatan gas sintesis. Proses metal dusting bertanggung jawab atas kerusakan logam paduan. Umumnya kerusakan terjadi di permukaan logam. Proses pembentukan lubang-lubang dan deposit karbon terjadi di permukaan. Metode pencegahan serangan metal dusting yaitu pembentukan lapisan protektif (Cr2O3, Al2O3, dll) di permukaan logam dan penghindaran temperatur kritis metal dusting antara 650° C-750° C.

Kata Kunci: Karburisasi, korosi, temperatur tinggi, semenit, disposisi karbon
————————————————————————————————-
KERUSAKAN PADA KOMPONEN PISTON KENDARAAN BERMOTOR
Ika Kartika, Cahya Sutowo, Daniel P. Malau, Budi Priyono

Abstrak
Piston pada kendaraan bermotor biasanya berbahan dasar paduan alumunium silikon yang diproduksi dengan proses pengecoran. Terdapat produk korosi berupa bercak-bercak putih dan hitam pada komponen piston tersebut, lapisan yang pecah dan adanya pitting pada permukaan komponen terlihat secara visual. Pengujian yang dilakukan untuk melihat penyebab kegagalan yaitu metalografi, analisis kualitatif (EDAX) dan mapping unsur (BSE) dengan EPMA. Hasil pengujian metalografi pada daerah bercak hitam menunjukkan adanya korosi batas butir (interdendritic corrosion), sedangkan analisis kualitatif pada daerah bercak putih mengandung unsur-unsur yang terdapat dalam flux cover. Mapping unsur pada daerah pitting memperlihatkan unsur CI yang sangat dominan. Dari serangkaian pengujian di atas diperoleh kesimpulan bahwa kerusakan pada komponen piston disebabkan oleh flux cover yang tidak sempat larut dan lingkungan yang bersifat korosif pada saat penyimpanan.

Kata Kunci: Kerusakan, Piston, Al-SI, Mapping unsur, Interdendritic corrosion
————————————————————————————————-
PENGARUH SENSITISASI DAN KONSENTRASI C1- PADA KETAHANAN BAJA TAHAN KARAT AISI 304 YANG MENDAPAT BEBAN STATIK DI DALAM LARUTAN 0.82 m H2SO4
Ronald Nasoetion

Abstrak
Telah dilakukan penelitian pengaruh sensitisasi dan konsentrasi ion Cl- yang bervariasi terhadap korosi retak tegang pada baja tahan karat AISI 304 (dianil pada temperatur 1100° C selama 12 jam, sensitisasi pada temperatur 550° C, 650° C, dan 750° C selama 12 jam). Media yang digunakan adlah larutan 0.82 M H2SO4 dengan variasi konsentrasi Cl- (1 ppm, 10 ppm, 100 ppm, 1000 ppm) dan diberi beban statik 35 kg/mm2 dengan temperatur larutan ± 80°C. Ketahanan logam dievaluasi menggunakan tiga parameter yaitu tf (waktu patah), tss (waktu transisi) dan iss (laju pertambahan panjang). Dari hasil penelitian ternyata konsentrasi ion Cl- berpengaruh terhadap tf, tss dan iss. Dari pengamatan secara metlografi, terlihat pada temperatur sensitisasi 650° C dan 750° C ada pengendapan karbida krom pada batas butir.

Kata Kunci: Anil, Sensitisasi, Waktu Patah, Waktu Transisi, Laju Pertambahan Panjang
————————————————————————————————-

Pencarian terkait:

kerusakan piston lipi, abstrak kerusakan piston lipi, analisa proses terjadi corosive, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan sebuah gedung mengalami retak dinding adalah 0 01% jika, korosi interdendritic, pengaruh metalografi terhadap korosi, proses terjadinya korosi majalah korosi
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this page